SALJU MENCAIR DI MALIOBORO

Genap satu bulan aku berdiam di rumah. Yah bukan lagi di kontrakan, aku pulang kampung. Memenuhi janji atas rasa kangen. Manusia-manusia berharga di sekitarku membuatku berkembang sepanjang waktuku. Aku bahagia. Padahal jika kutelisik lagi ke masa sebelum aku kuliah, aku tak pernah pergi jauh dari rumah, bertahun menjadi anak pendiam dirumah dan merasakan peristiwa-peristiwa yang sekarang kurindukan karena tak terjadi lagi. Sederhana sih, seperti menonton tv bersama, memasak buat ayah, belanja sayur ke pasar, hei itu  kulakukan setiap hari dulu, siapa menyangka kalau akan menjadi kegiatan yang bisa kulakukan sebulan saja per tahun.

“Lily, ayo masuk, sudah malam, tak baik”. Suara sekaligus sentuhan mama mengagetkanku.

“yakin sudah siap buat persiapan balik besok ?” sambut ayah ramah dari balik pintu. Aku hanya mengangguk dan senyum.

Aku masuk dan menutup pintu pelan-pelan, malam ini dingin hingga kupikir cukuplah aku berdialog dengan sinar bulan. Kalau kuingat, perjalananku jauh, yang pada akhirnya melahirkan segudang rindu. Tapi, jika ku pulang ke rumah tetap saja aku menumbuh-numbuhkan rindu. Rindu Jogja dengan segala isinya. Tau kan, betapa mendesaknya perasaan para seniman-seniman yang membahas tentang temaram dan syahdunya Jogja ? Embun-embun dini harinya dibawah lampu Malioboro dan yang lainnya. Begitupun aku, dengan segala manis perihnya, bingung tawanya, senyuman-senyuman dan pelukan-pelukan. Pulangku, bahagia kami, tapi di perantauan, itu bahagia kita. Ini bukan hanya tentang kerinduan, tapi juga tentang kehangatan.

Bulannya bergeser, aku merasakannya saat sinarnya sudah tak menghujani pintuku. Sama halnya dengan kehidupanku yang berpindah tempat, rasanyapun beda. Tempat ini nyaman, amat nyaman. Tak terlalu bagus memang, tetapi dengan rayuan-rayuan halus memanjakan, otakku jadi mengumpulkan suatu peristiwa yang kusebut masa-masa kecil. Tempat semacam ini kusebut rumah.

Malam ini aku tidur bersama ayah mama, aku terlalu kedinginan untuk tidur sendirian. Di sebelah kasur kupandang lagi sekilas koper yang akan kubawa besok pagi. Jam 10, cukuplah untuk tidur sampai jam 7 keberangkatanku balik ke perantauan. Kupandang dalam-dalam guratan yang makin tahun makin banyak terjebak di wajah cantik mama, apalagi di wajah ayah. Orangtuaku selisih 10 tahun, cukup jauh kurasa, tapi dengan keadaan ayah yang awet muda, mereka terlihat seumuran saja.

Tidurku nyenyak di pelukan mama, pagi ini sehabis sarapan, ayah dan mama mengantarku ke stasiun. Selalu saja, saat mereka memandangi rel dan petugas kereta, ada bayang-bayang air mata menari-nari di mata mama, bahkan ayahku yang kuanggap tak pernah tak senyum sepanjang waktupun, pagi ini senyum dengan sayu. Padahal aku dulu sangat menyukai kereta api dan propertinya, sekarang aku merasa kereta menculikku dan memisahkan dengan orang-orang yang kusayangi, rel menjauhkan fisik-fisik kami, dan petugas kereta tak peduli betapa berat perasaan penumpang yang berpelukan dengan pengantarnya. Meski begitu, di Jogja aku sering berhenti sejenak di pinggir jalan hanya untuk senyum pada kereta yang lewat, aku rasa, kereta juga bisa meringankan beratku.

Ramai. Bibir-bibir serius, sampai bibir lebar pamer gigi, beberapa ada yang ditutup tapi terdengar bersuara. Haha aku menertawakan hidungku yang mulai kedinginan. Yah, kota ini selalu dingin, entah pagi entah malam, heran.

Seperti ritual yang dilakukan sekali setahun, kereta lewat dengan peluitnya, petugas mengecek tiket dan pelukan-pelukan ditebarkan, senyuman-senyuman menahan tangis atas tidak terimanya mereka pada jarak. Yah, mau bagaimana lagi ?

Sesampainya di dalam gerbong, aku membuka buku catatan kecil pemberian mantan pacarku, mulai kuberdansa bersama penaku:

Aku duduk di kursi kereta, Senin, 3 Juli 2011. Menjadi perantau yang jauh dari “kedamaian” rumah. Berusaha hidup di tempat nan jauh disana, berusaha bernafas di hawa yang tak biasa. Jika berhasilpun akan dinikmati sendiri dan dirayakan dengan caranya sendiri yang entah etis atau tidak yang penting estetis dan teranggap baik.

 Soal pulang, pulang untuk berpelukan dan pujian. Hanya untuk pencitraan yang menjadi beban. Mulai memasang topeng yang lain agar warga tak tau “saya”. Taunya hanya baik dan bahagia, tanpa tau dalamnya ada hina dan kebimbangan.

adult backpack blur business
Photo by Fabrizio Verrecchia on Pexels.com

 

Iklan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.